Adsorpsi Limbah Zat Warna oleh Metal Organic Frameworks (MOFs)

  • Peta Konsep

    Peta Konsep Adsorpsi Limbah Zat Warna oleh Metal Organic Frameworks (MOFs)

  • Struktur Kimia dari MOFs Cr-BDC

    Cr-BDC merupakan subkelas dari MOFs yang terbentuk dari gabungan logam anorganik Kromium (Cr) dengan ligan organik asam benzendikarboksilat (H2BDC). Cr merupakan logam anorganik yang dapat dijadikan pilihan sebagai dasar pembentukan struktur anorganik yang stabil karena dapat berinteraksi kuat dengan oksigen yang terdapat pada ligan (Chuah, et al, 2001).

  • Mekanisme Adsorpsi

    Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan suatu zat sehingga partikel-partikel tersebut menempel pada bidang penyerapan. Hal ini terjadi karena adanya gaya tarik molekul-molekul pada permukaan adsorban

  • Proses terbentuknya Metal Organic Frameworks secara umum (Li et al., 2018)

    MOFs merupakan kristal berpori yang tersusun oleh ligan organik dan logam anorganik, seperti logam transisi, yang dihubungkan dengan ikatan kovalen koordinasi. Struktur MOFs yang tersusun atas ion logam sebagai atom pusat yang dihubungkan dengan senyawa organik yang berperan sebagai lingkers

Posttest

Share:

Pretest

Share:

Penentuan Sifat Koloid

Jika kalian diminta untuk mendesain sebuah percobaan mengatasi pencemaran limbah zat warna, menurut kalian sifat  koloid yang mana yang paling efektif untuk diterapkan dalam menyerap limbah tersebut? Tuliskan di kolom komentar!

Share:

Penentuan Adsorben

Jika kalian diminta untuk mendesain sebuah percobaan mengatasi limbah zat warna, menurut kalian bahan apa yang kira-kira paling efektif untuk diterapkan dalam menyerap limbah zat warna tersebut?



Share:

Pengolahan Limbah di Perairan

1.  Tawas dan Filter

Menjernihkan air yang tercemar di lingkungan dapat menggunakan alat penjernih air sederhana. Air keruh yang disaring digolongkan sebagai suspensi karena bersifat heterogen, terdiri dari dua fase yaitu padat dan cair, keruh, serta apabila didiamkan terbentuk endapan. Alat penjernih air memiliki beberapa komponen penyaring, yaitu pasir, tawas, kapas, sabut kelapa, arang, batu kerikil dan lidi.

Ketika air keruh dimasukkan ke dalam alat penjernih air sederhana. Maka tidak lain dan tidak bukan air yang keluar dari alat penjernih air tersebut adalah air yang jauh lebih jernih dibandingkan yang semula. Hal ini dikarenakan partikel-partikel suspensi yang membuat air menjadi keruh ukurannya lebih besar dibandingkan kerapatan komponen-komponen penyaring dalam alat penjernih air sederhana. Selain itu terdapat tawas yang berfungsi untuk mengadsorbsi, mengendapkan dan menggumpalkan kotoran-kotoran dalam air keruh. Ion Al3+ dari tawas akan menggumpalkan koloid tanah liat yang bermuatan negatif. Disamping itu tawas juga akan mengadsorbsi zat-zat seperti warna, detergen, peprisida dan lain-lain yang terdispersi dalam air keruh.

Air dapat dijernihkan berdasarkan sifat-sifat koloid, yaitu koagulasi dan adsorpsi. Proses koagulasi terjadi akibat tidak stabilnya sistem koloid; yang disebabkan penambahan zat elektrolit ke dalam sistem koloid tersebut. Sedangkan adsorpsi atau penyerapan adalah proses terikatnya suatu cairan, gas atau fluida pada permukaan suatu  padatan  atau  cairan  (zat  penyerap, adsorben)  dan  akhirnya  membentuk  lapisan tipis atau film (zat terserap, adsorbat).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi  proses  adsorpsi antara lain sifat fisik dan kimia adsorben (komposisi kimia, ukuran  partikel,  dan luas permukaan), sifat fisik dan kimia adsorbat (ukuran molekul  dan  komposisi  kimia),  serta konsentrasi  adsorbat  dalam  fase  cairan. Dalam adsorpsi hal yang paling penting adalah luas  permukaan  dan ukuran  pori adsorben. Semakin  kecil  ukuran  partikel maka semakin  besar  luas  permukaan  padatan  per satuan  volume  sehingga  semakin  banyak zat yang dapat diadsorpsi (Atkins, 1999).

Air sungai atau air sumur yang keruh mungkin mengandung lumpur (sol tanah liat), zat-zat warna, detergen, pestisida, dan lain-lain. Zat koagulasi yang ditambahkan pada proses penjernihan air adalah tawas, K2SO4A12(SO4)3. Zat A12(SO4 )3 dalam air akan terhidrolisis membentuk koloid A1(OH)3. Koloid Al(OH)3 yang terbentuk akan mengadsorpsi, menggumpalkan, dan mengendapkan kotoran-kotoran dalam air keruh. Ion Al3+ dari koloid Al(OH)3 akan menggumpalkan koloid tanah liat yang bermuatan negatif. Disamping itu, koloid Al(OH)3 akan mengadsorpsi zat-zat lain seperti zat-zat warna, detergen, pestisida, dan lain-lain yang terdispersi dalam air keruh tersebut.

 

2.  Zeolit

Zeolit

Zeolit merupakan senyawa aluminosilikat terhidrasi yang terdiri dari ikatan SiO4 dan AlO4 tetrahidra yang dihubungkan oleh atom oksigen untuk membentuk kerangka. Pada kerangka zeolit, tiap atom Al bersifat negatif dan akan dinetralkan oleh ikatan dengan kation yang mudah dipertukarkan. Kation yang mudah dipertukarkan yang ada pada kerangka zeolit ini berpengaruh dalam proses adsorpsi dan sifat-sifat thermal zeolit (Ozkan dan Ulku, 2008). Selain jenis kation, kemampuan adsorpsi zeolit juga dipengaruhi oleh perbandingan Si/Al dan geometri pori-pori zeolit, termasuk luas permukaan dalam, distribusi ukuran pori dan bentuk pori (Ackley dkk., 2003; Gruszkiewicz dkk., 2005).


Struktur Dasar Zeolit (Thamzil, 2005).

Zeolit merupakan material yang memiliki bentuk kristal sangat teratur dengan rongga yang saling berhubungan ke segala arah dan menjadikan luas permukaan zeolit sangat besar sehingga sangat baik digunakan sebagai adsorben (Suardana, 2008). Zeolit terdapat secara alami di permukaan tanah. Saat ini banyak jenis zeolit alam yang telah ditemukan dan dikelompokkan berdasarkan kesamaan strukturnya. Meskipun zeolit sintetis juga telah banyak diproduksi, namun zeolit alam tetap mempunyai peranan penting karena ketersediaannya yang melimpah di alam, khususnya di Indonesia (Senda dkk., 2006). Berbeda dengan zeolit sintetis yang strukturnya dapat diprediksi dari senyawa penyusunnya, zeolit alam mempunyai struktur yang tidak selalu sama, tergantung pada kondisi pembentukannya di alam. Oleh karena itu, pada penggunaan zeolit alam sebagai adsorben dibutuhkan proses aktivasi. Proses aktivasi ini diperlukan untuk meningkatkan sifat khusus zeolit dan menghilangkan unsur pengotor (Rosita dkk., 2004). Proses aktivasi juga dapat merubah jenis kation, perbandingan Si/Al serta karakteristik zeolit agar sesuai dengan bahan yang akan diserap.

Zeolit mempunyai pori-pori yang dapat menyerap zat warna dan mempunyai kation yang bergerak bebas sehingga memungkinkan pertukaran ion tanpa merusak struktur zeolit. Sehingga zeolit dapat sebagai adsorben dalam mengadsorpsi limbah warna (dyes) dalam penurunan konsentrasinya. Zeolit alam mengandung muatan negatif dan muatan positif dalam jumlah tertentu. Adsorbat yang memiliki muatan negatif akan berikatan dengan muatan positif dari zeolit alam. Sedangkan adsorbat yang memiliki muatan positif akan berikatan dengan muatan negatif dari zeolit alam.

 

  3.   Arang Aktif

Arang Aktif

Arang aktif merupakan suatu bahan berupa karbon amorf yang sebahagian besar terdiri atas atom karbon bebas dan mempunyai permukaan dalam (internal surface) sehingga mempunyai kemampuan daya serap (adsorption) yang baik (Surtamtomo et al., 1997). Bahan ini mampu mengadsorpsi anion, kation, dan molekul dalam bentuk senyawa organik dan anorganik, baik berupa larutan maupun gas (Pari, 1996).

Pembuatan arang aktif dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pembentukan arang bersifat amorf dan porous pada suhu rendah. Tahap kedua adalah proses pengaktifan untuk menghilangkan hidrokarbon yang melapisi permukaan arang supaya porositas arang meningkat. Aktivasi arang untuk menghasilkan arang aktif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara kimia dan fisika. Beberapa bahan yang mengadung karbon dalam jumlah banyak seperti kayu, sebuk gergajian kayu, kulit biji, tempurung, gambut, batu bara, petroleum coke, dan lignit dapat dibuat arang aktif. Sifat arang aktif dipengaruhi oleh bahan baku dan cara aktivasi yang digunakan (Austin, 1984).

Struktur Grafit Arang Aktif (Jankowska, 1991).

Metode   adsorpsi   menggunakan   arang   aktif  merupakan salah satu cara penanganan limbah zat warna yang paling  umum  digunakan  karena  biayanya  murah,  metodenya sederhana, mudah dilakukan, dan cocok untuk zat yang beracun (Hamdaoui dan Mahdi, 2006). Arang aktif dapat menyerap zat-zat atau mineral yang mencemari perairan.

 

4.  Silika Gel

Silika Gel

Silika gel merupakan salah satu bahan kimia berbentuk padatan yang banyak dimanfaatkan sebagai adsorben. Hal ini disebabkan oleh mudahnya produksi dan juga beberapa kelebihan yang lain, yaitu : sangat inert, hidrofilik, mempunyai kestabilan termal dan mekanik yang tinggi serta relatif tidak mengembang dalam pelarut organik jika dibandingkan dengan padatan resin polimer organik. Kualitas yang berkaitan dengan pemanfaatannya ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu struktur internal, ukuran partikel, porositas, luas permukaan, ketahanan dan polaritasnya.

Salah satu metode untuk  menghilangkan  air  pada  cat  dinding  yang telah  mengalami  water  spot  adalah dengan menyerap  kadar  air  yang  terjebak  antara  lapiasan  cat  dan  plamirtanpa  harus  melakukan pengamplasan pada cat. Penyerapan  dapat  dilakukan dengan  bahan-bahan  yang  memiliki  tingkat  adsorbsi terhadap air  yang tinggi. Salah satu zat  yang  memiliki  tingkat  adsorbsi  yang  tinggi terhadap  air  adalah  silika  gel  yang  banyak digunakaan  pada pembuatan  popok  dan  zat penyerap kelembaban  pada bungkus berbagai  produk sepatu, obat-obatan, dan pakaian agar  tidak mudah menjamur dan rusak. Gel silika adalah  butiran  seperti  kaca  dengan  bentuk yang  sangat  berpori,  silika  dibuat  secara sintetis  dari  natrium  silikat.  Walaupun namanya  gel  silika padat.  Gel  silika adalah  mineral  alami  yang  dimurnikan  dan  diolah  menjadi  salah  satu  bentuk  butiran  atau manik-manik.  Sebagai  pengering,  ia memiliki ukuran pori rata-rata 2,4 nanometer dan  memiliki  afinitas  yang  kuat  untuk  molekul  air. Silika  gel  merupakan  suatu  bentuk  dari  silika  yang  dihasilkan  melalui penggumpalan sol natrium silikat (NaSiO2). Sol  mirip  agar-agar  ini  dapat didehidrasi sehingga  berubah  menjadi  padatan  atau  butiran mirip kaca yang bersifat tidak elastis.  Sifat ini menjadikan silika gel dimanfaatkan sebagai  zat  penyerap (adsroben),  pengering  dan  penopang  katalis  (Setiyo,  2014).

Menurut Oscik (1982, 188) susunan tetrahedral SiO4 pada silika gel tidak beraturan seperti struktur berikut :

Strukur Silika Gel (Oscik, 1982)

Share:

Peta Konsep

Peta Konsep Adsorpsi Limbah Zat Warna oleh MOFs

 

Share:

Evaluasi Pengalaman

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan jawaban pertanyaan. Tuliskan kesimpulan anda mengenai adsorben MOFs, zeolit, silika gel, dan arang aktif yang dapat mengadsorpsi limbah!

Kesimpulan yang anda peroleh diposting dikolom komentar! (Kesimpulan yang kalian tulis di laporan)


Share:

Menguji Hasil

Laporan dan video proyek rangkaian alat penjernihan limbah dikumpulkan di link berikut!

Link : Laporan dan Video Proyek Rangkaian Alat Penjernihan Limbah

Setelah link laporan dan video diupload maka untuk menguji pemahaman terkait adsorpsi limbah oleh rangkaian alat menggunakan adsorben zeolit, silika gel, dan arang aktif maka didiskusikan pertanyaan yang terdapat pada laporan proyek rangkaian alat penjernihan limbah! Diskusi dilakukan di kolom komentar!


Share:

Monitoring Perkembangan Proyek

Monitoring perkembangan proyek rangkaian alat untuk mengadsorpsi limbah yang mencemari lingkungan dilakukan selama 1 minggu dengan mengisi lembar monitoring di link berikut!

Link : Monitoring Perkembang Proyek Rangkaian Alat Penjernihan Limbah

Untuk menulis laporan proyek yang dilakukan maka carilah informasi terkait penyebab adsorben yang kalian gunakan dapat mengadsorpsi limbah tersebut!

Informasi yang seharusnya anda temukan diantaranya mengenai karakteristik bahan yang kalian gunakan (zeolit, silika gel, dan arang aktif) sebagai  adsorben dan mekanisme proses adsropsi yang terjadi!

Hasil data yang anda peroleh diposting dikolom komentar! 

Share:

Menyusun Jadwal Pembuatan

Dari hasil diskusi maka diperoleh MOFs sebagai adsorben yang paling baik dalam menyerap limbah. Tetapi nyatanya MOFs perlu disintesis terlebih dahulu dan membutuhkan biaya yang relatif tinggi dan waktu yang lama. Oleh karena itu, menurut kalian jenis adsorben apa yang paling efektif dan efesien untuk mengatasi pencemaran lingkungan di sekitar kalian? Tuliskan langkah pembuatan rangkaian alat penjernihan limbah yang mungkin bisa kalian lakukan dan susun jadwal pembuatannya!

Berikut link format laporan proyek rangkaian alat untuk penjernihan limbah yang mencemari lingkungan! 

Link : Format Laporan Proyek Rangkaian Alat Penjernihan Limbah

Share:

Adsorpsi Limbah Zat Warna oleh MOFs

Proses Adsorpsi Limbah Zat Warna oleh MOFs

Alat : botol vial, pipet tetes, gelas ukur, shaker

Bahan : MOFs dan Limbah Zat Warna

Langkah Kerja Adsorpsi Limbah Zat Warna

1. Dimasukkan 5 mg MOFs ke dalam botol vial lalu ditambahkan 5 mL limbah zat warna.

2.  Dishaker selama 40 menit.

3.  Diamati perubahan yang terjadi.

 

Berikut cuplikan video adsorpsi limbah zat warna oleh MOFs dengan pengaruh suhu.


Untuk menguji pemahaman terkait adsorpsi limbah zat warna oleh MOFs maka jawablah pertanyaan berikut!

1.  Berasal dari manakah limbah zat warna tersebut?

2. Pada gambar tersebut zat warna yang digunakan yaitu zat warna reactive orange. Tuliskan struktur senyawa tersebut!

3.  Bagaimana proses pembentukan MOFs?

4.  Menurut anda apa indikator keberhasilan adsorpsi?

5.  Mengapa MOFs dapat mengadsorpsi zat warna?

6. Bagaimana mekanisme adsorpsi yang terjadi pada proses adsorpsi limbah zat warna menggunakan MOFs?

Jawaban yang anda peroleh diposting dikolom komentar! Jawaban yang dibuat diberikan nomor sesuai soal.

Share:

Rancangan Desain Proyek

Berdasarkan hasil diskusi diketahui bahwa adsroben yang paling efektif untuk menyerap zat warna adalah MOFs, maka dari itu sebelum membuat proyek rangkaian alat untuk mengadsorpsi limbah. Berikut disajikan dokumentasi proses sintesis MOFs dan proses adsorpsi limbah zat warna. 

Sintesis MOFs 

Alat : gelas kimia, pipet tetes, neraca analitis, teflon autoklaf, tabung reaksi, rak tabung reaksi, hot plate, sudip, corong Buncher, oven Memmert, magnetic stirrer, kaca arloji, kertas saring, sentrifugal, vakum, pompa vakum, gelas ukur, shaker Scilogex SK L330, tabung vial, batang pengaduk.

Bahan : Cr(NO3)3.9H2O , HF 1 M, H2BDC, DMF, etanol, larutan deionisasi.

Langkah Kerja Sintesis MOFs 

1.      Ditimbang 3 gram Cr(NO3)3·9H2O

2.      Ditimbang 1,25 gram H2BDC.

3.      Dilarutkan dalam 100 mL air deionisasi.

4.      Distirer selama 15 menit sambil ditambahkan HF 1 M sebanyak 1 mL tetes demi tetes.

5.      Dipindahkan larutan ke dalam teflon autoklaf, tutup dengan rapat dan dipanaskan pada suhu 220℃ selama 20 jam.

6.      Dinginkan teflon autoklaf sampai suhu ruang selama 8 jam.

7.      Dimasukkan padatan basah ke dalam tabung reaksi untuk ditempatkan ke dalam tabung sentrifugal.

8.   Dilakukan sentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 300 rpm. Larutan supernatan dibuang setelah sentrifugasi.

9.     Dimasukkan bersama-sama endapan yang dihasilkan dan dicuci 3 kali dengan DMF (setiap kali 100 mL).

10.  Direndam padatan dalam 100 mL etanol selama 20 jam.

11.  Dicuci hasil rendaman sebanyak 5 kali dengan air deionisasi (25 mL setiap kali).

12.  Dikeringkan padatan basah pada suhu 150℃ selama 8 jam dalam oven.

13.  Didapatkan MOFs Cr-BDC murni.


Proses Adsorpsi Limbah Zat Warna oleh MOFs

Alat : botol vial, pipet tetes, gelas ukur, shaker

Bahan : MOFs dan Limbah Zat Warna

Langkah Kerja Adsorpsi Limbah Zat Warna

1. Dimasukkan 5 mg MOFs ke dalam botol vial lalu ditambahkan 5 mL limbah zat warna.

2.  Dishaker selama 40 menit.

3.  Diamati perubahan yang terjadi.

 

Berikut cuplikan video adsorpsi limbah zat warna oleh MOFs dengan pengaruh suhu.


Untuk menguji pemahaman terkait adsorpsi limbah zat warna oleh MOFs maka jawablah pertanyaan berikut!

1.  Berasal dari manakah limbah zat warna tersebut?

2. Pada gambar tersebut zat warna yang digunakan yaitu zat warna reactive orange. Tuliskan struktur senyawa tersebut!

3.  Bagaimana proses pembentukan MOFs?

4.  Menurut anda apa indikator keberhasilan adsorpsi?

5.  Mengapa MOFs dapat mengadsorpsi zat warna?

6. Bagaimana mekanisme adsorpsi yang terjadi pada proses adsorpsi limbah zat warna menggunakan MOFs?

Jawaban yang anda peroleh diposting dikolom komentar! Jawaban yang dibuat diberikan nomor sesuai soal.

Share:

Definition List

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Adsorben

  • MOFs
  • Zeolit
  • Silika Gel
  • Arang Aktif

MOFs

Cr-BDC

Recent Posts